Senin, 21 Desember 2015

(FOTO) Seperti Inilah Keadaan Pembangunan MRT di Dalam Perut Jakarta

Banyak orang mengira bahwa pembangunan MRT (Mass Rapid Transit) berjalan lambat. Tidak salah memang, karena mereka hanya berpatokan pada apa yang terlihat. Dari permukaan jalan memang tidak terlihat ada pembangungan yang berarti, namun di bawah permukaan ada sebuah bor raksasa yang selalu menggerus perut Jakarta. Antareja namanya. Mesin bor berdiameter 6,7 meter ini mampu melubangi perut Jakarta sejauh 8 meter setiap harinya.

Rute perjalanan dimulai dari area patung pemuda yang berada di Senayan, Jakarta Selatan. Lengkap dengan berbagai alat pelindung diri (APD) saya menuruni tangga sedalam kurang lebih 16 meter di bawah tanah. Seperti di film aksi Holywood, lorong besar terbentang dengan area gelap dan terang yang membuat lorong tersebut seperti hidup.

Penasaran seperti apa keadaan di bawah? Berikut kami sajikan secuil foto dari rubrik Photo Story






















Sumber

Kamis, 17 Desember 2015

Furious 7 (2015) EXTENDED BluRay + Subtitle Indonesia

furious7extn.jpg

File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 19 Menit - 54 Detik
Ukuran: 397 mb

Download Movie  : Furious 7

Subtitle indonesia : brext-ff7-2015.zip 

Review:
Sebagai pembuka mari simak beberapa kalimat dari bintang utama Fast & Furious berikut ini: “Universal is going to have the biggest movie in history with this movie”, “It will probably win best picture at the Oscars, unless the Oscars don’t want to be relevant ever”, “This will win best picture”, “There is nothing that will ever come close to the power of this thing.” Well, cara yang sangat baik untuk membangun hype Mister Vin, tapi jika pernyataan tersebut anda kemukakan pada tanggal 1 April mungkin “boomerang” yang hadir akan dengan sangat mudah untuk anda tangkap kembali. Fast & Furious 7: one last ride who love to be rushing, and love to be dragging.

Pria yang berhasil meledakkan mobil Han (Sung Kang) di bagian akhir Fast & Furious 6 ternyata tidak main-main dengan kalimat “You don't know me. You're about to” yang ia ucapkan kepada Dominic Toretto (Vin Diesel). Deckard Shaw (Jason Statham) langsung melancarkan aksinya yang disisi lain juga mengusik rencana Dom beserta Brian O'Conner (Paul Walker) dan seluruh anggota timnya untuk kembali menjalani kehidupan normal mereka di Los Angeles, seorang tentara bayaran level atas yang mencoba membalaskan dendam atas perbuatan yang dilakukan Dom dan rekan-rekannya pada saudaranya, memaksa semua anggota tim untuk kembali dan menyatukan kemampuan mereka untuk sebuah pertarungan final yang mereka sebut one last ride.

Masalahnya adalah meskipun pernah muncul di hadapan Dom cara yang Deckard lakukan adalah dengan melancarkan serangan tersembunyi, cara yang berhasil ia gunakan untuk melumpuhkan Luke Hobbs (Dwayne Johnson). Kondisi tersebut memaksa Dom memutuskan untuk menerima tawaran dari operasi pemerintah dibawah komando Frank Petty (Kurt Russell) yang berjanji akan membantu Dom dan timnya menemukan Deckard jika mereka mampu menjalankan sebuah tugas yang ia berikan, menemukan sebuah program bernama god's eye serta menyelamatkan seorang programmer bernama Megan Ramsey (Nathalie Emmanuel).

Dua tahun yang lalu pada Fast & Furious 6 sebagai salah satu film series yang sejauh ini terus menampilkan sebuah perkembangan kearah positif di tiap film terbarunya (setelah Fast & Furious), selalu menunjukkan upaya bahwa mereka belum berhenti untuk mencoba menuju titik puncak meskipun film terbarunya tidak selalu mampu melampaui kualitas pendahulunya. Fast Five masih yang terbaik dan Fast & Furious 6 berada sedikit dibelakangnya, jadi bukan sesuatu yang terasa aneh jika kemudian banyak penonton lain menaruh harapan yang sedikit lebih besar pada film ketujuhnya ini mengingat apa yang diberikan dua film terakhirnya tergolong mampu memuaskan dan berada di level good.

Bagaimana hasilnya? Not bad, tapi ibarat dalam sebuah pertarungan tinju film ini seperti petinju yang terlalu sentimental, anda melihat pukulan tapi dentuman dan thrill yang dihasilkan oleh pukulan tersebut tidak maksimal. Masalah utama pada Furious 7 datang dari apa yang selalu Dom dan timnya coba lakukan: menciptakan kemasan terbaru yang lebih besar dari film terdahulunya. Memberikan apresiasi pada film yang mengambil langkah tersebut tentu saja mudah, tapi sikap berani tersebut memiliki pengaruh yang tergolong kecil pada hasil akhir. Lantas apa yang menyebabkan Furious 7 tidak berhasil meraih level yang lebih tinggi dari Fast Five?

Kendali yang tidak mumpuni pada ambisi. Ini memang lebih besar, hal tersebut bukan hanya terlihat dari segi tindakan atau elemen action yang bahkan kali ini mencoba membawa mobil bermain-main di udara, pada elemen cerita hal serupa juga terjadi. Cerita yang masih ditulis oleh Chris Morgan memakan waktu 25 atau mungkin 30 menit untuk mencoba menciptakan konflik dan membangun drama, tapi jika anda ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya clue sudah diberikan oleh James Wan melalui perkataan Dom ketika Letty hendak bersiap melakukan balapan di bagian awal.

Ride or die, begitu yang selalu mereka ucapkan, namun kali ini Dom meminta Letty untuk tidak melakukan push terlalu jauh, cukup selesaikan balapan, dan seperti itu Furious 7 tampil. Bukan berarti tidak ada satupun hal menyenangkan disini, adu pacu gerak cepat hingga ledakan masih eksis, salah satu daya tarik dari franchise ini yaitu lelucon juga kembali hadir walaupun kualitasnya kurang begitu oke, permainan gambar yang James Wan hasilkan juga terhitung mumpuni bahkan beberapa terasa mengasyikkan, dan pelengkapnya CGI yang akan membuat anda tertawa bahagia.

Namun dengan cerita yang sejak sinopsis sesungguhnya terhitung potensial bahkan mencoba tampil kompleks dengan memberikan penonton lintasan penuh liku-liku, karakter utama yang sudah solid, hingga villain yang potensial, Furious 7 seperti ballerina yang lupa cara menari ballet karena sedang merasa sangat sedih, semua tidak dimanfaatkan dengan maksimal, semuanya bermain aman layaknya drama yang hanya ingin melepas kepergian sahabat tercinta mereka, Paul Walker.

Kehilangan bintang utamanya ditengah jalan pada proses produksi tentu menjadi luka yang besar bagi sebuah film, dan dengan kondisi sulit tersebut apa yang diberikan Furious 7 sudah oke, tapi bukan berarti mereka lantas takut untuk “bergembira” yang sesungguhnya dapat menjadi persembahan terakhir terbaik bagi Paul.

Ada dua bagian yang terasa kontras pada film ini, bagian awal yang oke bukan hanya pada tik-tok dan gerak narasi, kesan konyol pada unsur drama juga tidak begitu kentara dari upaya sentimental, tapi semuanya berubah paruh kedua. Perlahan menurun bagian kedua Furious 7 seperti komedian yang tampil melucu dalam kondisi berduka, beberapa lelucon yang ia ciptakan berhasil memberikan hit tinggi tapi dinamika dari pertunjukannya naik dan turun secara frontal.

Furious 7 seperti itu, ia bahkan punya momen yang akan membuat anda bergumam holyshit, tapi konflik serta plot yang gemuk dipenuhi rasa bingung ketika dikembangkan sehingga momen monoton dan draggy juga tidak kalah dalam mencuri atensi dan merusak histeria. Tapi bagaimana jika film tersebut yang berusaha menjual cerita dan disini ia gunakan sebagai ruang untuk menghadirkan emosi dari sebuah perpisahan?

Tidak mengharapkan eksekusi yang mewah pada cerita tapi setidaknya James Wan harus memperlakukan mereka dengan cara yang sedikit lebih sopan sehingga meskipun memiliki kedok sebagai sebuah gimmick untuk memperlebar arena bermain ia setidaknya tidak terasa mengganggu. Rasa kecewa juga hadir dari chemistry didalam cast inti yang kali ini seperti terasa terlupakan oleh Wan, padahal salah satu daya tarik dari Fast & Furious Series bukan hanya pada adegan aksi tapi juga karakter-karakter menyenangkan yang mampu membuat penonton bukan hanya tertarik tapi peduli dengan apa yang mereka lakukan.

Namun meskipun di paruh kedua berulang kali mengecek jam tangan karena rasa jenuh yang semakin berbahaya meskipun durasi hanya tujuh menit lebih panjang dari dua film terdahulunya, saya memberikan tepuk tangan kecil ketika dua buah mobil itu bergerak menuju arah yang berbeda di bagian akhir. Beberapa menit terakhir terasa emosional, tidak peduli sejauh apa intimitas anda dengan karakter Brian O'Conner pasti akan hadir simpati bahkan rasa sedih ketika cuplikan gambar dari Paul Walker hadir di layar. S

esungguhnya itu sesuatu yang mengejutkan karena karakter Brian O'Conner sendiri kehadirannya seperti antara ada dan tiada setelah adegan melompati mobil itu (yang imo menjadi batas awal penggunaan CGI). Berbicara karakter yang paling mengecewakan tentu saja Deckard Shaw, Jason Statham tidak dimanfaatkan dengan tepat sehingga berakhir sebagai karakter kartun seperti mayoritas karakter-karakter lain, termasuk cast inti.

Overall, Fast & Furious 7 adalah film yang cukup memuaskan. Hanya stunts dari film ini yang berada di level yang sama dengan film terdahulunya, karena elemen lain yang sebelumnya terasa mumpuni mengalami degradasi walaupun tidak semuanya dalam kuantitas yang ekstrim. Menarik sudah pasti, kejutan yang segar di awal lewat permainan gambar dari James Wan serta cerita yang seolah mencoba tampil lebih rumit terasa menjanjikan, namun meskipun disokong visual mumpuni Furious 7 menderita pada alur cerita yang setengah matang akibat ambisi besar tadi sehingga tidak menghasikan konsistensi yang terkendali, terkadang hit dan menegangkan dalam gerak cepat, tapi tidak jarang terasa lesu dan draggy. Furious 7 bukan kemasan yang buruk terlebih mengingat situasi sulit yang mereka alami, tapi dengan segala potensi yang ia miliki pada akhirnya Furious 7 hanya berhasil menjadi sebuah perpisahan yang aman.

Sumber

Fast%2B%26%2BFurious%2B7%2B(2015)%2Bimag

Fast%2B%26%2BFurious%2B7%2B(2015)%2Bimag

Download Film Goosebumps (2015) HDRip Subtitle Indonesia MP4 High Quality

goosebumps2015hd.jpg
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 43 Menit - 12 Detik
Ukuran: 281 mb


Download Movie : Goosebumps (2015)
Download Subtitle Indonesia : hd-gsebumps-2015.zip

Released
16 October 2015 (USA)
CountryUSA | Australia
Language
English
Genre
Adventure | Comedy | Sci Fi | Fantasy | Horror
Director
 Rob Letterman
Writers
Darren Lemke(screenplay), Scott Alexander (story), 2 more credits » 
Starcast Jack BlackDylan MinnetteOdeya Rush| See full cast and crew »
Ratingimdb-icon.gif 6.8/10

Ratings: 6.8/10 from10,304 users   Metascore: 59/100
Reviews: 72 user | 100 critic | 27 fromMetacritic.com 

Jika kamu adalah fans horor dari era 90’an yang merasa bahwa novel-novel Stephen King itu terlalu rumit, terlalu tebal dan terlalu mahal maka kamu tahu harus ke mana. Ya, novel Goosebumps milik R.L Stine. Versi orisinalnya adalah best seller global, terjual lebih dari 350 juta copy di seluruh dunia dan sudah diterjemahkan dalam 32 bahasa. 62 seri dalam rentang waktu lima tahun adalah salah satu hal terbaik buat para horor mania muda pada saat itu terutama buat mereka membutuhkan asupan bacaan penuh adrenalin dan teror yang sesuai dengan kapasitas otak mereka.

Dan kini setelah hampir dua dekade, versi live action-nya akhirnya benar-benar terwujud. Sebenarnya proyek adaptasi film Goosebumps sudah direncanakan jauh-jauh hari, tepatnya pada tahun 1998 dengan Tim Burton sebagai produsernya, namun entah kenapa tidak pernah terealisasi. Baru pada 2008 lalu ketika Columbia Pictures mendapatkan hak ciptanya, lampu hijau kemudian kembali menyala buat proyek ini meski pada akhirnya baru pada 2015 ini bisa kita nikmati setelah sebelumnya sempat berjibaku dengan draf naskahnya.

Pertanyaannya, bagaimana kamu membuat 62 seri novelnya ke dalam versi film? 1 film dengan 61 sekuel? Tidak, itu gila dan sangat tidak mungkin. Atau omibus mungkin? Tidak, bahkan antologi horor ambisius ABC of Deaths dengan 26 saja hasilnya keteteran. Jadi kemudian Columbia harus memutar otak memikirkan bagaimana naskahnya agar bisa memuat semua pengalaman di 62 serinya bisa diwakilkan dalam satu film dan satu universe, maka kemudian dibuatlah sebuah konsep menarik yang menggabungkan elemen fantasi dan biografi palsu dari ide cerita milik Scott Alexander dan Larry Karaszewski di mana monster, hantu dan makhluk penunggu novel milik penulis R.L Stine yang dimainkan Jack Black mendadak hidup dan keluar dari buku-buku horor ciptaannya.

Sisi positif dari premis ini tentu saja kamu, terutama para fans novelnya akan senang karena dimanjakan dengan banyak referensi dari sumber aslinya. kamu akan bisa melihat Slappy si boneka ventriloquist dari seri Night of the Living Dummy atau “Boneka Hidup Beraksi” dalam judul versi Indonesianya memimpin monster-monster lain dari dunia Goosebumps macam mumi Mesir, manusia serigala rawa, monster salju Pasadena, kurcaci batu taman, tanaman pemakan manusia sampai belalang raksasa. Ya, ada begitu banyak kesenangan melihat banyak karakter monster yang kamu kenal bersesak-sesakan dalam satu film, seperti melihat versi lain yang lebih ceria dari klimaks berdarah Cabin in The Woods.

Sementara sisi negatifnya adalah ia tidak punya jati diri novelnya. Ini seperti sebuah meta horor ketimbang adaptasi novel, namun sekali lagi saya memahami dilema susahnya memasukan begitu banyak serinya ke dalam satu film, ya, itu sangat tidak mudah. Penyutradaraan Rob Letterman dari Monsters vs. Aliens dan Gulliver’s Travels memang tidak istimewa, malah kalau mau jujur presentasinya lebih terasa ke aroma FTV ketimbang film layar lebar dengan segala tetek bengek parade CGI murah untuk menghasilkan efek-efek dan monster-monsternya.

Tetapi harus diakui juga ia punya tensi cepat yang terjaga dengan baik setelah perkenalan dan sedikit basa-basi di 20 menit pertamanya, Letterman masih bisa memberikan hiburan yang menyenangkan dengan segala kejar-kejaran dan serbuan monster. Tetapi tentu saja dengan lebel horor remaja, kamu tidak bisa berharap banyak Goosebumps akan memberikan sensasi teror horor sejati dengan darah, kengerian dan gore, seperti novelnya, adaptasinya pun tidak lebih dari sekedar tontonan nostalgia untuk bersenang-senang semata, seperti sedang memasuk wahana rumah hantu di taman hiburan malam, meski terlihat mengerikan dan seram dari luar namun sebenarnya sangat aman dan lucu di dalam.


goosebumps.jpg

Goosebumps+new+picture+%283%29.jpg

goosebumps.jpg