Header Ads

9 Kebiasaan Terbalik Tapi Populer Di Kalangan kita {Umat Islam}

Pernahkan Anda bermuhasabah atau menilai dan menghitung kembali pada amalan sehari-hari kita?. Kadang-kadang kita akan temukan amalan atau perbuatan kita adalah terbalik atau berlawanan dari apa yang dituntut oleh Islam. Mungkin kita tidak sadar atau telah dilalaikan atau ikut-ikutan dengan budaya hidup orang lain.

Mari kita lihat praktek-praktek di masyarakat kita yang terbalik di bawah ini: -

1. Amaliah dzikir tahlil untuk orang mati yang dilakukan beberapa hari di rumah keluarga almarhum (malam pertama, kedua, ketiga, ketujuh dan seterusnya) adalah terbalik dari apa yang dianjurkan oleh Rasulullah di mana Rasulullah telah menganjurkan tetangga memasak makanan untuk keluarga si mayit untuk meringankan kesusahan dan kesedihan mereka.

Keluarga tersebut telah ditimpa kesedihan, terpaksa pula menyediakan makanan dan belanja untuk mereka yang datang membaca tahlil. Tidakkah mereka yang hadir makan jamuan tersebut khawatir kalau-kalau mereka termakan harta anak yatim yang ditinggalkan oleh si mayit atau harta peninggalan si mayit yang belum dibagi kepada yang berhak menurut Islam?

Jangan lupa memberi derma ketika ta’ziyah.

Jangan salah faham ya, bukan tahlilan atau dzikirnya yang dipermasalahkan di sini. Kalau dzikir dan tahlil memang sebaiknya diadakan, tapi jamuannya hendaknya para tetangga yang menyiapkannya.

Memang di beberapa kampung sudah ada yang merubah situasi ini dengan memberikan bantuan kepada keluarga si mayit berupa beras atau uang yang dipungut dari warga kampong. Dan itu sudah menjadi kesepakatan bersama seluruh warga.

2. Kalau datang ke resepsi walimatul ‘urus (pesta perkawinan) selalu membawa salam tempel alias amplop sumbangan. Kalau tidak ada uang, maka kita segan untuk pergi makan ke kondangan pernikahan itu. Tetapi kalau mendatangi tempat orang meninggal atau ta’ziyah, kita tidak malu hanya sekedar salaman atau kalaupun memasukkan amplop, nilainya sangat kecil (Betul…?).

Seharusnya kalau mendatangi tempat orang meninggallah kita memberi sedekah lebih banyak. Kalau ke pesta pernikahan, nggak menyumbang pun tidak masalah harusnya, karena tuan rumah mengundang kita khan untuk tasyakuran, bukan untuk mengumpulkan sumbangan.
3. Ketika menghadiri acara bersama orang-orang terpandang kita berpakaian bagus dan indah, tetapi bila menghadap Allah baik di rumah maupun di masjid, pakaian kita seadanya saja, bahkan mungkin yang sudah berhari-hari dipakai. Tidakkah ini suatu perbuatan yang terbalik?

4. Kalau menjadi tamu di rumah orang dan diberi jamuan, kita merasa segan untuk makan, malu-malu kucing katanya, sedangkan yang dituntut harusnya banyak-banyak makan dan menghabiskan apa yang disajikan oleh tuan rumah, supaya tuan rumah merasa gembira. Kebiasaan minum dengan meninggalkan sisa nampaknya sudah menjadi budaya, supaya kelihatan tidak rakus barangkali. Padahal sisa makanan atau minuman kita nanti juga pasti Cuma dibuang. Mubadzir khan?

5. Kalau Sholat Sunnah di Mesjid sangat rajin tapi kalau di rumah, malas. Sedangkan sebaik-baik Sholat Sunnah adalah yang dilakukan di rumah seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk menghindari rasa riya.

6. Bulan puasa adalah bulan mendidik nafsu termasuk nafsu makan yang berlebihan tetapi kebanyakan orang mengaku bahwa dalam biaya makan orang Islam di bulan puasa adalah yang tertinggi dalam setahun. Sedangkan seharusnya belanja di bulan puasa yang terendah. Bukankah ini juga terbalik?

7. Semua orangtua sangat khawatir kalau-kalau anak mereka gagal dalam ujian nasional. Maka dicarikan dan diantarlah ke tempat kursus walau dengan biaya yang mahal. Tapi kalau anak tidak dapat membaca Al-Qur'an, orang tua sama sekali tidak khawatir bahkan mengkursuskan anak baca Al-Qur’an saja rasanya sayang. Kalaupun akhirnya dipanggilkan guru mengaji, pasti bisyaroh atau biayanya tidak semahal kalau kursus mata pelajaran. Katanya sekedar uang bensin saja…

8. Kalau bekerja mengejar rezeki Allah siang malam, pagi petang, harus pergi kerja. Hujan atau badai tetap diarungi karena ingin mematuhi peraturan kerja. Tapi ke rumah Allah (masjid) walau tidak hujan, tidak panas, tidak ada angin pun tetap tak datang ke masjid. Betul…?

9. Seorang isteri kalau mau keluar rumah baik dengan suami atau tidak, bukan main cantik dandanannya. Tapi kalau di rumah, masyaAllah…, jangankan pakai bedak, mungkin mandi saja malas-malasan. Sedangkan yang dituntut dalam Islam, seorang istri itu berhias untuk suaminya, bukan berhias untuk orang lain. Kebiasaan yang terbalik seperti ini yang membuat rumahtangga kurang bahagia.


Cukuplah contoh-contoh di atas, barangkali masih banyak yang bisa anda temui. Marilah kita berlapang dada menerima kebenaran yang sesungguhnya. Mungkin ada yang tidak sependapat dengan pandangan di atas, mari kita diskusikan bersama untuk kebaikan kita bersama kaum muslimin.

Sabda Rasulullah SAW: "Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat." (Riwayat Bukhari)

Tidak ada komentar

Jangan lupa komentarnya ya !!!

dhensuy. Diberdayakan oleh Blogger.